SOE HOK GIE, pahlawan saya

posting an ini udah kunooo sekali, saya tulis waktu pertama-pertama bikin blog… tapi, karena saya pindahan blog, jadinya posting an ini ikut2 an saya pindah, dan jadinya ngga up to date lagi, hihihihi. Posting an ini saya tulis waktu film “Gie” lagi hot-hot nya

Soe Hok Gie adalah salah satu dari “pahlawan-pahlawan” saya. Saya mengenalnya dari berita di “intisari” ber tahun-tahun yang lalu. Dan saya semakin mengenalnya di perkumpulan pecinta alam di kampus saya. Tentu saja, saya menonton filmnya, dan saya katakan, big-big thanx to ibu Mira Lesamana, yang mengangkat tokoh terkenal (di kalangan tertentu) ini, ke layar lebar.

Sebenarnya saya sedih sekali, karena Cina Kecil (julukan Soe) pahlawan saya itu, telah “dibantai habis-habisan” oleh Nicolas, yang sama sekali tak bertampang cina, apa lagi kecil! Tapi, tak apalah, karena menurut saya, Nicolas bagus juga membawakan tokoh Gie. Kata ibu Mira (dan Nicolas juga), ia sama sekali tidak peduli dengan ke-cina-an Soe, atau dengan kata lain, ia tidak menganggap ke-cina-an soe itu sebagai sebuah fakta yang penting sekali. Beda sekali dengan saya. Soe Hok Gie menjadi pahlawan saya, justru karena dia Cina. Dia menjadi salah satu inspirator saya, sampai akhirnya saya berani berkata “Ya, saya Cina, so what, giyu loh?!”

Saya pernah begitu malu dan menyesal, karena saya keturunan Cina. Kata-kata Cina, pernah menjadi kata-kata yang paling menyakitkan bagi saya. Saya di besarkan di Pati, sebuah kota kecil di Jawa Tengah, yang disebut-sebut sebagai basis terkuat PKI Ja-Teng (baca kembali buku PSPB anda). Kota Pati juga disebut secara jelas dalam buku Soe, yang berjudul Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan, sebagai daerah PKI yang revolusioner. Akhirnya, pada tahun 1948 PKI revolusioner ini mengadakan pemberontakan, yang dikenal dengan pemberontakan PKI Madiun. Di Pati, akronim PKI hubungannya erat sekali dengan Cina, dua kata ini terhubung oleh 1 kata, yaitu Komunis. Begitu banyak orang keturunan cina mati dalam “pembersihan” setelah pemberontakan PKI 1948. Di Pati, isu tentang Cina, PKI, dan Komunis adalah isu yang paling menarik, sekaligus paling rawan. Sentimen publik terhadap keturunan Cina tumbuh subur di Pati. Beruntunglah anda, keturunan Cina yang lahir dan dibesarkan di kota besar, seperti Jakarta dan Surabya. Karena, isu-isu semacam ini tidak terlalu berkembang di kota besar. Hal ini juga diakui oleh Soe Hok Gie (baca CDS).

Sebenarnya, apa sih dosanya, kalau lahir sebagai keturunan Cina? Apa iya, keturunan Cina itu otomatis menjadi komunis, dan tidak nasionalis? Soe Hok Gie dengan bangga menolak untuk mengganti namanya, bukan karena dia tidak nasionalis, tapi karena dia jujur, bahwa dia keturunan Cina. Sebagai tokoh gerakan pembauran (gerakan di era Soekarno), Soe tidak memandang penggantian nama, sebagai salah satu sarana pembauran. Soe juga bangga dengan julukan Cina Kecil itu. Karena itulah, fakta bahwa ia Cina menjadi begitu penting bagi saya.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu Mira, dan sdr.Riri, gara-gara film inilah, maka CDS (Catatan Seorang Demonstran) dapat dicetak kembali. Demikian juga dengan beberapa buku lain, seperti Orang-orang Di Persimpangan Kiri jalan, Di Bawah Lentera Merah, serta Pergulatan Intelektul Muda Melawan Tirani, secara serentak membanjiri toko-toko buku. Terima kasih, sudah menghidupkan kembali pahlawan saya.

Advertisements