Butuh Pengakuan?? Jangan gila!!

Sekitar bulan Oktober 2009, saya baca berita tentang perempuan bernama Clara, yang disinyalir pernah jadi pendaki perempuan pertama dari ASEAN yang berhasil mencapai puncak Everest, Himalaya….. Sayang nya, beritanya ngga fokus ke pendakian itu, secara pendakian itu juga dah lama banget, tahun 1996. Beritanya tentang… Clara di rawat di RSJ Magelang, dan keluarganya menulis surat kepada RSJ nya, supaya Clara ngga usah di pulangin ke rumah… kasarnya : mereka menolak rencana kepulangan Clara….. kesian yah…

Katanya, Clara sudah 3 kali masuk-keluar RSJ, pertama 1997, trus 2000, terkahir 2009 ini. Clara pertama kali di rawat d RSJ tuh tahun 1997 an , lho…. itu kan artinya setahun setelah dia turun dari Everest?! Bayangin, perempuan ASEAN pertama yang sampai di puncak Everest, dan ngga ada data-datanya sama sekali. Mungkin sebelum media “menemukan” dia lagi di Oktober 2009 itu, semua bakal bilang: Clara? Clara who?? Sekarang, orang mungkin bilang : Oh, Clara yg katanya pendaki itu yah?? Yang di RSJ sekarang. Nah, masih banyak yang ragu-ragu juga. Bahkan, katanya keluarga dia juga ngga begitu percaya, dia sudah sampai Everest. Aneh ga seeeh?? Ya ampun, everest kan bukan gunung sebelah rumah, yang ga butuh persiapan dan waktu lama untuk mendaki?? Masa keluarganya ngga berasa kalo si Clara nih menghilang beberapa saat di tahun 2006?? Trus saya googling donk, si Clara Sumarwati ini. Ternyata udah banyak orang yang coba-coba menggali informasi soal pendakian itu (ini salah satunya) Kayaknya dia emang udah pernah ke sana deh…..

Kalo menurut dokter yang merawat dia, Clara tuh gejala paranoid. Salah satu tulisan yang saya baca bilang, kalo cerita si Clara tentang expedisinya itu hampir2 membuat si penulis mengatai Clara pembual!! Saking “Wow!!” nya cerita dia. Ada yang bilang, Clara kaya Prof. John Nash di film Beautiful Mind.

Surya online

Menurutnya dr Hariyono, Clara mempunyai gangguan ke arah paranoid. Dia selalu diliputi rasa curiga yang tidak berdasar dan tidak realistis pada lingkungan bahkan cenderung mengganggu lingkungan sosial.

“Meskipun tidak ada apa-apa, tetapi dianggapnya ada orang yang mau mencelakakannya,” katanya mencontohkan.

Pemicu kondisi tersebut, lanjur dr Hariyono, antara lain karena dia mempunyai prestasi tetapi dirasakannya tidak ada orang yang menghargai atau mempercayainya sehingga merasa frustasi berkepanjangan.

“Berdasarkan data yang kami miliki tidak ada faktor keturunan. Rasa kecewa sebagai pencetus meskipun ada latar belakang sebelumnya berupa mental yang rapuh,” katanya.

Ternyata, “butuh pengakuan” tuh bisa menjadi pemicu sakit jiwa ya? Bukannya seharusnya, prestasi itu di raih untuk kepuasan pribadi?? Well, pengakuan dalam masyarakat perlu ya?? Bisa ngga sih, kita melakukan hal yang orang lain jarang bisa lakukan (in positif way!!!!) tanpa butuh gembar gembor ke orang lain, kalau kita bisa?? Kayak nya kok engga ya?? Soalnya, seperti hal nya Deddy Corbusyet (u know… that mentalist) menebak head line koran Kompas di depan umum. Dia bisa kan, nebak2 sendiri di rumah, di ruang kerja nya, dan senyam-senyum sendiri di depan kaca  (sambil masang make-up, may be??) ketika tebakan nya bener? Tapi dia butuh pengakuan sebagai mentalist handal. Kalo penyanyi yang suaranya emas banget, ngga mungkin donk, kalo selamanya dia bakal nyanyi di kamar mandi?? Dulu mungkin memang cuma di kamar mandi, trus udah diakui orang serumah, lanjut ke lomba 17 an, agar diakui orang se RT, dan seterusnya…… (Ta da….. Kris Dayanti pun lahirlah!!) Sayangnya, begitu banyak orang yang perlu pengakuan, ngga banyak yang dapat pengakuan. Penyebabnya bisa gara2 emang ngga hebat2 amat, atau…. cuma ga lucky aja…. Makanya, banyak orang yang bakat sulap, banyak pula yang show nya cuma di acara HUT, itu pun dalam kostum badut. Yang bisa dapat uang banyak pengakuan masyarakat secara luas ya cuma beberapa gelintir aja….  Kembali ke Clara….. dia juga gagal dapat pengakuan, bahkan dari orang terdekatnya (keluarga) dan…. berakhir di RSJ… duuuh!! Kalau menurut saya, pengakuan orang lain atas prestasi kita itu penting kali ya…. tapi lebih penting lagi pengakuan diri kita sendiri, atas apa yang sudah kita dapat.  Eh, jangan-jangan, gara2  terlalu bangga atas diri sendiri, malah jadinya kena megalomaniac?? yahhhhh… berakhir ke RSJ lagi donk? hhihihiihihi

Saya pernah ketemu sama Clara ini lhoooo. Di OBI, Jati luhur, tahun 2007 an. Waktu itu, saya, Clara, dan 2 orang perempuan lagi, ketemu di guest room nya OBI, mau ikut seleksi trainer nya OBI. Dalam percakapan awal waktu itu, Clara sempet bilang kalau dia itu pernah mendaki Everest,  kita sih percaya aja. Ga sengaja salah satu teman memperhatikan kalo dia punya T-shirt dengan merek dan tulisan yang sama, beberapa biji. Jadi kesannya dia ngga ganti baju beberapa hari. Dia jelasin, kalo itu T-shirt sponsor pendakian Everest dia, kita mangut2 tanda ngerti. Setelah 3 hari 2 malam menjalani seleksi bersama dia,  3 hari 2 malam dalam satu team, 3 hari 2 malam hanya kita ber 4….. kami ber 3 (Clara coret) mikir kalo cerita tentang Everest itu….. cuma isapan jempol semata!! Ngga ada yang percaya!! Aduh… maaf ya Clar…. abis nya gimana? Semua tingkah laku mu waktu itu sama sekali ngga mencerminkan seorang yang sudah pernah sampai di Everest!! Saya sih cuma pendaki lokal an yang pake sandal jepit untuk pendakian…. ngga tahu juga gimana harusnya seorang mantan pendaki Everest bersikap…. Aduh, rasanya ga etis bgt kalo saya sampai nulis apa yang bikin kita ber3 ngga percaya kalau Clara sudah sampai Everest! hahahah!!

Saya tetap percaya, kalo prestasi itu diraih demi kepuasan pribadi, bukan demi pengakuan orang lain….. Semoga saya ga kena megalomaniac! hihihi

(Clara, cepat sembuh ya…. Amin)

Advertisements