Budaya “Nyampah”

Iya……budaya untuk memproduksi sampah, memakai sampah, dan pada akhirnya, karena emang itu semua dari awalnya adalah sampah, maka seluruh barang produksi itu akan berakhir di SAMPAH! Bowww… sampe pake capital S.A.M.P.A.H lhoo… kebanyakan dengerin lagunya Lady Gaga, Born this way, sih… kan dia bilang “no mather if u love him, or capital H I M m..m…m…(echo nih!)

Misalnya, kopi yang di kemas dalam bungkus kecil-kecil. Plastik pembungkusnya yang sengaja di produksi, gunanya emang hanya untuk di buang, alias jadi sampah. Air minum dalam kemasan, botolnya juga di produksi hanya untuk di jadikan sampah.  Apa lagi tas kresek, ga perlu di jelaskan lah. Sekarang mulai ada plastik yang tergradasi, tapi saya belum baca review lebih lanjut, itu tergradasi beneran, ato cuma ancur aja, tapi racun nya tetep bersemayam di dalam tanah. Sumpit sekali pake buang, dari namanya aja dah tercermin, kalo sumpit itu adalah sampah.

Belum lagi…. barang-barang centil gantungan cellphone imut-imut, murah-murah. Daya tahan nya sesuai dengan harga, dan life style gampang bosan. Alias, cepet rusak malah baek, bisa beli model lain. See….. gantungan cellphone itu dari awal diproduksi nya, emang di rencanakan untuk jadi sampah, ngga lebih.  Jepit rambut yang mengandung unsur murah-imut-china, yang bakal rusak sebelum empunya bosan? Banyak item fashion yang di produksi untuk jadi sampah….. Karena itu, saya setiap kali melewati toko barang-barang fashion macam itu, yang terlintas dikepala saya adalah : Jualan sampah!!

Begitu banyak barang di produksi di dunia ini, hanya untuk di buang secepat nya! Ada sih fungsi nya, tapi….. fungsi nya kecil dan singkat, sehingga cuma jadi “selilit” diantara produksi dan sampah itu tadi.

Padahal, memproduksi kan butuh sumber daya alam, tenaga dan uang!! Soalnya, konon barang-barang itu cuma berubah bentuk aja, ngga ada yang di produksi dari total HAMPA.  Jadi, untuk memproduksi 1 item sampah kecil yang bernama paper cup, ada pohon yang di tebang, ada mesin yang berjalan, ada bahan bakar yang terpakai, ada air mengucur, dan tentunya tenaga manusia, untuk at least memencet tombol ON mesin produksi……

Dan terbuang lah semua tenaga dan uang itu besama sudah- bosan- cari- model baru. Atau menjadi sampah bersama sekali-pake-buang-modern-praktis!!

Di beberapa negara Eropa yang mapan, standard “ke-keren-an” sebuah resto adalah “kesiapan”. Jam berapa pun pelanggan order, barang harus selalu siap! Gitu deh! jadi, kalau 30 menit dari jam tutup ada pelanggan datang, semua pilihan harus lengkap! Itu lah resto KEREN!! Lalu…. kemanakah makanan-makanan yang ga bisa disimpan lagi itu? Misalnya donat di etalase, ngga mungkin juga di simpan buat besok. Siapa yang makan? Dengan sangat menyesal saya katakan, tempat sampah yang memakan nya! Jadi, pekerja resto akan menyiapkan SAMPAH untuk memenuhi etalase, 30 menit sebelum resto tutup, karena ada 2 pelanggan datang! Iya, sampah, karena, 30 menit kemudian, donat itu benar-benar ada di tempat sampah!

Setelah mendengar cerita tentang sampah di resto Luxembourg ini, saya berjanji untuk menghilangkan semua ke BT an saya, atas semua resto yang makanan nya ngga ready saat saya order. Saya bersyukur, saya bisa masuk toko kue terkenal di Surabaya, 1 jam sebelum toko tutup, dan mendapati rak nya kosong-kosong. Saya bersyukur bahwa di Surabaya, standard ke-keren-an resto/toko makanan adalah, barang cepat habis! Kalau mau banyak pilihan, harus datang agak pagi!! Itu namanya KEREN!

Semoga saya ngga terseret jadi pelaku aktif budaya “nyampah” ini……. Amin

Advertisements