Hari Kebaya Nasional, Mari Mengutuki Perempuan!!

Wahhh.. sudah bulan April lagi, sudah hari Kartini lagi… Kek nya baru kemaren saya posting tema Kartini-emansipasi-kebaya-kodrat-bla-bla-bla….Ya ampun, waktu cepat berlaluuu!! Hiks!!

OK, sekarang bukan saat nya menagisi waktu yang berlalu cepat, ini saat nya mengutuki perempuan!! Yeahh!! Soalnya ada yang menuduh saya feminist dan suka mengutuki lelaki, jadi kali ini saya akan mengutuki perempuan, biar adil. Dalam rangka Hari Kebaya Kartini nasional ini, mari kita mengutuki perempuan!

Mari mengutuki perempuan yang berbondong-bondong beli kebaya, dan ngga tahu tuh kebaya buat apa, setelah hari kebaya lewat. Bener-bener konsumerisme yang dilegal kan!

Mari mengutuki perempuan yang mau-mau nya buang-buang duit buat ndandanin anak nya kebaya dan pakaian daerah. Menyiksa anak-anak mereka dengan dandanan menor demi pawai perayaan hari kebaya. By the way busway, saya dulu sempat sakit hati loh, soalnya ngga kepilih buat pawai begituan pas TK. Sakit hati,  saya lihat teman-teman yang itu-itu aja yang berangkat…… Hari ini saya syukuri saya ngga pernah ikut pawai begituan.

Mari mengutuki perempuan yang mau-maunya dandan ga jelas buat bekerja, demi hari kebaya. Bayangin aja, pegawai SPBU di dekat saya tinggal, dandan baju adat Bali yang buat nari tradisional itu!! Orang Bali aja ngga ada yang pake kain prada plus kemben buat kerja!! Prada yang saya maksud tuh kain emas-emas itu looh! Bukan Prada yang merek tas berharga selangit itu. Bayangin aja, gimana ga nyaman nya kerja pake kostum tari kek gitu, lengkap ama sanggul dan bunga goyang!

Mari mengutuki perempuan yang mau-maunya ikut lomba yang super silly, demi hari Kebaya Nasional. Lomba yang bikin perempuan tampak ngga cantik,  semacam lomba slalom becak, pake kebaya pula!

Mari mengutuki perempuan yang ngga bisa menyampaikan ketidakpuasan nya pada orang yang bersangkutan, justru bisa nya ngomong sama orang sedunia lewat status-status melankolis-mengharap tanggapan penuh simpati  di situs jejaring sosial.

Mari kita mengutuki perempuan yang ngomongin emansipasi  hanya setahun sekali, pada hari Kebaya Nasional. Dan itu pun tetep dengan ngga ngerti sama sekali apa itu emansipasi. Dan membiarkan diri nya tenggelam dalam lembah ketidaktahuan, serta menolak mentah-mentah uluran tangan sang pengetahuan yang ingin menolongnya.

Dan yang terakhir……

Mari mengutuki perempuan yang membiarkan diri nya menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Hari ini, entah kenapa saya meyakini bahwa kekerasan dalam rumah tangga terjadi karena kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan aja boleh menyalahkan tatanan patriaki dalam masyarakat…. Perempuan boleh juga menyalahkan sinetron yang isinya perempuan teraniaya melulu, tapi sabar nya ngga bisa dinalar…. Perempuan boleh menyalahkan orang tua pasangan nya yang sudah salah mendidik anak lelaki mereka…. Perempuan boleh menyalahkan lelaki itu sebagai sumber penderitaan dalam hidup nya…..

Tapi perempuan harus tahu,  itu semua adalah salahnya sendiri…. At least dia salah pilih pasangan lah! Well, buat perempuan yang di jodohkan, maaf sunggung maaf, kalian tetap salah… karena membiarkan saja lelaki itu menyakiti mu…..

Perempuan…..apakah kamu memang mahluk terkutuk yang menerima godaan ular? Apakah benar, kamu mahluk yang terkutuk karena menyeret lelaki ke dalam dosa?? Mungkin saya bisa menemukan jawabanya di hari Kebaya tahun depan.

 

 

Advertisements