Mau Dibawa Kemana Dieng Kita??

Kata nya, lagu “Negri di awan” karya Katon Bagaskara itu, terinspirasi dari Dieng plateu. Ga heran sih, dataran tinggi Dieng ini sering-sering nya diselimuti kabut, aura nya misterius. Perkebunan sayur menyelimuti tanah yang bukit-bukit. Hawanya senantiasa sejuk cenderung menggigil…..

Tahun 2008 saya ke Dieng dalam merangka foto prewedd. Waktu itu Dieng relatif sepi. Belum ada Indomart dan penjual kentang goreng dipinggir jalan.

Hari ini (Desember 2014) saya kembali ke Dieng, keadaan sedikit banyak berubah….. Logika nya begitu sih. Saya aja lulus kuliah, masak Dieng ga boleh berkembang??

Nah…… yang saya pertanyakan adalah : Mau dibawa kemana perkembangan dataran tinggi Dieng kita ini?

2 malam saya tinggal di Dieng, dibawah guyuran hujan yang tidak saja mengandung pengawet, tapi juga mengandung pengembang, walaupun tidak mengandung stabilizer. Setiap saat pengennya mengunyaaaah tiada henti. Bagus juga, ada gorengan kentang di mana-mana. Kentang Dieng terkenal nendang, digoreng hangat, ditabur garam saja sudah enak banget……. Harga juga masuk akal.

Yang ga masuk akal itu……. pembungkus nya. Styrofoam box ukuran 10×10 cm merajai seluruh Dieng!! Literary merajai. Dipegang penjual, di meja penjual, di tangan pembeli, di tempat sampah, di saluran air, di depan warung, di tanah lapang, di aspal, di pinggir area perkebunan……. Belum lagi botol minuman, bungkus snack kriuk-kriuk tak bergizi, kantong plastik, dll dsb.

Di beberapa tempat, seperti di depan pos pendakian ke gunung Prau, sampah-sampah dikumpulkan disuatu tempat, dipinggir jalan, menumpuk setinggi gunung, ga tahu mau diapakan.

Ketika Indomart bisa mengirim supply ke toko nya, dengan bagus……  Kenapa sampah harus menggunung, ga tahu mau dikirim ke mana? Ketika PLTP Dieng bisa mengolah geothermal menjadi listrik buat kota-kota di Jawa…….Kenapa mengolah sampah plastik dan styrofoam terdengar seperti mimpi di siang bolong?

Saya pikir, langkah pertama yang bisa diambil adalah mengurangi sampah nya. Saya rasa, akan jauh lebih baik kalau penjual pake kotak kardus saja. At least kardus bisa lah terurai oleh alam. berikut nya, Indomart harus turut bertanggung jawab atas sampah yang mereka “bawa” ke “atas”, jadi harus di bawa “turun” lagi. Lalu, para pendaki….. Kalian jelas harus membawa sampah kalian kembali ke kota!! Tega amat sih, sama petani!

 

Advertisements