Gender : Nurtured, or Nature?

on

Gender itu hasil didikan (nurtured) atau bawaan (nature) sih?

Lagi pride month, nih, tepat nya bulan Juni. Gara-gara pride month, jadi mikir soal LGBTQ++ Seriously, huruf nya kayaknya bakal nambah terus, hahah. Dulu-dulu, yang populer cuma LGBT aja, hari ini nambah Queer. Mungkin besok nambah A for asexual?

Anyway, ada 3 hal yang digunakan manusia untuk mendeskripsikan diri nya. Sex, Sex orientation, dan gender. Nah… apa bahasa indonesia nya gender?? Bahkan kalo dikonsultasikan ke mbah gugel sekalipun, kita tetep bingung.

Menurut KBBI, gender itu semacam alat musik! Ya, coba cara baca “e” nya di balik, trus “g” nya ngga diganti “j”, emang alat musik, jadi nya. Menurut kamus-kamus ala-ala lain nya, gender diterjemahkan jadi jenis kelamin. Ga setuju juga. Kalo gender itu jenis kelamin, trus sex itu apa bahasa Indonesia nya? Dalam dunia ruwet yg dinamakan identitas manusia, gender itu letak nya di dalam otak.  Sebenernya, gambar inipun ngga bisa mewakili keruwetan tadi, tapi paling ngga beginilah gambaran kasar nya.

Paling gampang ngebahas jenis kelamin. Bisa dilihat mata, ada bentuknya, pokoknya fisikal banget deh. Ngga ada yang salah alamat, kalo berkenaan dengan jenis kelamin ini. Bisa laki, bisa perempuan, bisa dua-duanya (kasus extra langka nih). Orientasi sexual, juga relatif gampang dimengerti. Letaknya di otak, tentu saja….. hati itu kan cuma memompa darah aja. Bisa homosexual, heterosexual, bisa bisexual, dan bisa…… asexual.

Nah, sampe di gender. Apa itu?? Menurut WHO :

Gender refers to the socially constructed characteristics of women and men – such as norms, roles and relationships of and between groups of women and men.

Nah loh? Ternyata gender itu adalah karakter yg dibentuk oleh sekelompok manusia, untuk membedakan perempuan dan laki-laki. Misalnya, norma, peran sosial, dan pola interaksi antar manusia. Jadi, gender bukan bawaan lahir! Gender itu dibentuk oleh masyarakat. Sesuatu yang dibentuk manusia itu sifat nya dinamis, jadi bisa berubah.

Yang menarik lagi, gender itu bentukan masyarakat lokal, alias ngga universal. Misalnya, kalo di masyarakat jawa, “rambut panjang” itu karakter perempuan, di masyarakat Africa, ngga begitu. Ingat film”Black panther”? Ya… kayak gitu lah model rambut sebagian cewek Africa. Ada banyak yang universal juga, misalnya mengasuh anak. Banyak masyarakat melabeli ini sebagai karakter perempuan, sebagai lanjutan dari …… urusan biologis, yaitu melahirkan dan menyusui.

Sepatu ber hak, zaman duluuuu sebelum revolusi Prancis, didesain buat laki-laki kelas atas. Biar kalo naek kuda, pijakan nya “nyantol”. Artinya sepatu hak, dulu pernah jadi karakter laki-laki, hari ini sudah engga. Bahkan sudah pindah jadi karakter perempuan. Begitulah gender, fluid alias encer, mengalir.  Ada sih, masyarakat yang pembagian karakter ini jelas banget, ada pula yang engga. Tergantung masyarakatnya.

Nah, trus, mana yang duluan, menentukan identitas dulu (laki/perempuan), lalu menyesuaikan dengan karakter yang sudah dibentuk masyarakat? Ato sebaliknya? Lihat karakternya dulu, trus baru ditentukan identitas laki/perempuannya? saya pikir itu ga penting-penting amat sih. Proses gitu loh, yang penting hasil akhir. Hasil akhir yg diharapkan adalah menentukan identitas diri sendiri. Kalo bisa menentukan identitas diri, artinya kita berhasil mengenal diri kita sendiri, saat itu lah, kita berdamai dengan diri sendiri.

diambil dari youtube “Human Sexuality is Complicated…”

Ga usah bingung dengan : aku nih cewek, kok ngga bisa pake rok? Well, itu kan karakter buatan masyarakat, buat apa dibingungin? Cari kek, karakter lain yang lebih pas.

Ada orang yang bisa ngerasa aku laki banget (gendernya laki-laki)! Soalnya karakter-karakter laki-laki di lingkunganku banyak yang cocok. Ato aku nih girly banget! Tapi ada juga yang selalu merasa semua karakter ngga nge pas……  Hey! Jangan sedih jangan bimbang! Masih ada kok, pilihan gender diluar laki-laki/perempuan. Kita bisa bilang kita gender unicorn, atau mermaid, suka-suka aja. Sekali lagi, gender itu karakter buatan masyarakat, jangan terlalu dianggap serius. Mungkin aja besok masyarakat berubah? Sapa tahu?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s